Lingkar Paha Sebagai Indikator Status Gizi pada Anak Usia 6— 12 Tahun di SD Anjasmoro I—IISemarang

Tahun 2000 Volume 35 Nomor 4
Oleh : Puji Leksono Putranto, Wahyu Rochadi

Latar belakang: Beberapa penelitian di Upper Volta, Filipina dan India nelaporkan beberapa keuntungan dan ukuran antropo metri lingkarpaha (LP) dibandingkan dengan lingkar lengan atas (LLA), Sedangkan di Indonesia be/urn ada penelitian serupa yang pernah dilaporkan.
Pada anak—anak pra sekolah tidak terdapat perhedaan bermakna antara lingkar paha makcimum laki—laki dan perempuan . serta didapatkan kesalahan pengukuran lingkar paha maksirnum sedikit lehih rendah daripada lingkar lengan atas. Pada anak SD (6-12 tahun) ditemukan korelasi positif antara lingkar tengah paha dengan umur, berat badan dan berat badaii/tinggi badan baik pada anak laki—laki ataupun perempuan. Tidak terdapat perbedaan hermakna antara nilai rerata lingkar tengah paha laki—laki dengan perempuan. Studi ini ingin mencari perbandingan reliabilitas antara pengukuran lingkar paha dengan lingkar lengan atas serta korelasi antara lingkar paha dengan indeks antropometri berat badan/umur, tinggi badan/u serta herat badan/tinggi badan pada anak sekolah dasar.
Metoda: Penelitian ini adalah penelitian survei observasional dengan pendekatan belah lintang yang dilaksanakan di SD Anjasmoro I—Il, kotamadya Semarang. Populasi dan sampel adalah semua anak di SD yang diteliti sebanyak 528 anak Data yang dikumpulkan adalah umur, jenis kelamin, BB, TB, LP dan LLA. Data di analisis rnenggunakan uji Anova, uji Reliability Analysis Scale (Alpha) dan uji Korelasi Product Moment dan Pearson. Batas keneaknaan yang dipakai 0,05.
Hasil: Didapatkan bahwa pengukuran LLA rnemiliki tingkal reliabilitas yang lebih tinggi dibandingkan pengukuran LP, tetapi perbedaannya tidak bermakna. Kedua ukuran memiliki reliabilitas yang tinggi. Ditemukan korelasi positif yang bermakna antara pengukuran LP dengan RB/U, BB/T, TB/U
Penggunaan LP dapat disarankan sebagai salah satu indikator antropometri, namun diperlukan riset iebih lanjut’ untuk menetapkan baku rujukan pada berbagai populasi berdasar pengelompokan umur dan jenis kelamin.

Background: Several researches which have been done in Upper Volta, Philippine and India reported the advantages of using (high circumference compared to upper arm circumference measurement. In Indonesia, this kind of research has never been reported.
It was found that there was no sign difference between boys and girls maximum thigh circumference in pre school children. The error in maximum thigh circumference measurement was lower than upper arm circumference. There were positive correlations between mid thigh circumference and age, weight and weight for height either in boys or girls but there was no significant difference between mid thigh circumference ‘s mean of elementary school boys and girls. This study will try to compare the thigh circumference and upper arm circumference measurement reliability and the correlations between thigh circumference and weight for age, and height for age and weight for height among elementary school children.
Method.s: The study was done in Anjasmoro I-Il elementary school in Semarang on children aged 6-12 years old. It was an observational survey with a cross sectional approach. The sample of the study were 528 children. A nova, Reliability Analysis Scale (Alpha) and Product Moment Correlation Test were used for data analysis. The significance level was 0,05.
Results: It was found that upper arm circumference measurement has a higher reliability level than thigh circumference although the dUjerence was not sign Both of/hose measurements had high level of reliability. There were sign positive correlations between thigh circumference and weight for age, and weigh/for height and height for age.
Thigh circumference should be considered as an anthropometric measurement. However, more studies are needed to provide population standard or reference for different age and sex groups.