Hubungan Lingkar Paha, Lingkar Betis dan Panjang Pedis Dengan Kemampuan Loncat Vertikal

Tahun 1998 Volume 33 Nomor 2
Oleh : Tri
Indah Winarni, M.I. Widiastuti S

Tujuan : Untuk mengetahui korelasi antara kemampuan loncat vertikal dengan beberapa ukuran anthropometri : lingkar paha, lingkar betis, foot length dan instep length, dan untuk mengetahui kontribusi ukuran-ukuran tersebut di atas (dengan juga mempertimbangkan faktor berat badan, tinggi badan, lipatan kulit paha dan lipatan kulit betis) terhadap kemampuan uji loncat vertikal . Kedua adalah untuk mengetahui apakah ada perbedaan antara kemampuan uji loncat vertikal pada pria dibandingkan dengan wanita.

Manfaat : Sebagai masukan untuk seleksi ukuran anthropometri pada etlet, khususnya yang aktivitasnya membutuhkan kemampuan loncat vertikal.

Desain : Cross-sectional.

Sampel : 76 mahasiswa FK-UNDIP angkatan tahun 1996 / 1997 (wanita : 47, pria : 29) yang setuju dijadikan subjek penelitian. Mahasiwa dengan latihan olahraga teratur untuk mencapai suatu prestasi dimasukkan ke dalam kinerja eksklusi.

Cara : Uji loncat vertikal dengan metode Bookwalter dilakukan tiga kali berturut-turut lalu dihitung reratanya. Foot lenght, instep length, lingkar paha, lingkar betis diukur dengan tehnik WADC (Wright Air Development Center). Lipatan kulit paha dan lipatan kulit betis diukur dengan skinfold caliper.

Analisa : Uji korelasi Pearson, analisa regresi multipel dan t-test.

Hasil : Didapatkan korelasi yang bermakna antara foot length, instep length dan tinggi badan dengan kemampuan uji loncat vertikal (p=0.000). Tidak ada korelasi bermakna antara lingkar paah dan lingkar betis dengan kemampuan uji loncat vertikal. Dengan menggunakan regresi multipel didapatkan faktor-faktor yang mempunyai kontribusi positif terhadap kemampuan uji loncat vertikal adalah tinggi badan, instep length dan lingkar paha (meskipun secara statistik tidak bermakna). Lipatan kulit paha dan berat badan mempunyai kontrabusi negatif terhadap kemampuan uji loncat vertikal. Ada perbedaan yang bermakna antara kemampuan uji loncat vertikal pada pria dibandingkan dengan pad awanita (p=0.000).

Kesimpulan : Kemampuan uji loncat vertikal dpat diperkirakan dengan memperhatikan ukuran-ukuran anthropometri yaitu : panjang pedis dan tinggi badan. Perbedaan jenis kelamin akan menghasilkan perbedaan kemampuan uji loncat vertikal juga. Penelitian lain dengan jumlah sampel yang lebih banyak dianjurkan, dengan memperhatikan tehnik pengukuran yang lebih reliabel dab valid.

Objective : To determine correlation between vertical jump capability and several anthropometric measurements : thigh and calf circumference, foot and instep length; and to know the contribution og those measurements (considering the bodyweight, height, calf skin fold, thigh skin fold) to vertical jump capability, and also to determine the difference of vertical jump capability test between male and female students.

Significance : The anthropometric measurement can be used for selecting athletes, especially those who are trained for activities which need vertical jump capability.

Design : cross-sectional study.

Participants : 76 students of Diponegoro Faculty of Medicine (year of 1996 / 1997), consisted of 47 females and 29 males, who agreed to be included in the study. Those who have regular sport activities were excluded.

Methodology : The vertical jump test was measured 3 time successively according to Bookwalter method to determine the average value. Foot length, instep length, thigh and calf circumference was measured according to WADC (Wright Air Development Center) technique. Skin fold caliper was used to measure thigh and calf skin fold.

Analysis : Pearson”s correlation, multiple regression and t-test.

Result : There were significant correlation between each foot length, instep length body height and vertical jump capability (p=0.000). No correlation were exist between thigh, calf circumference and vertical jump capability. Using multiple regression, factor that relatively had great positive contribution to vertical jump capability were body weight gave negative contribution. There was significant difference of vertical jump capability regarding to sex (p=0.000).

Conclusion : Vertical jump capability test can be estimated by antropometric measurements : instep length and body height. Sex significantly differentiates vertical jump capability. Another study with more participants are recommended, considering more on reliability and validity of measurement technique.